Roma 8:24-25
8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?
8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.
Pernahkah Anda berharap sesuatu? Jawabannya saya rasa hampir semua sama, pasti punya. Ya, yang jelas harapan itu adalah sesuatu yang belum kita miliki saat ini, bisa dibilang sesuatu yang didambakan. Baik itu mengenai pendidikan, pekerjaan, pasangan hidup, keluarga, atau hal lainnya. Lalu kepada siapa dan bagaimana kita menaruh pengharapan itu? Kalo kita merenungkan lebih dalam isi Alkitab, disana jelas sekali dikatakan bahwa pengharapan kita satu-satunya adalah berasal dari Allah. Secara nyata, kita boleh saja mengharapkan sesuatu. Tapi sudah benarkah pengharapan kita itu? Apakah dasar kita mempunyai pengharapan itu? Untuk kebaikankah? Atau hanya semata untuk kepentingan pribadi. Sebaiknya kita merenungkan lebih dalam tentang pengharapan kita.
Ketika orang mempunyai pengharapan, haruslah ia memiliki keyakinan yang kuat bahwa pengharapan itu pasti diperoleh. Tentu saja tidak sekedar yakin saja, harus disertai tindakan nyata. Mungkin saja didalam pencapaian itu, banyak sekali rintangan atau bahasa kasarnya kesengsaraan. Namun kalo kita melihat dari bacaan Alkitab lainnya yang diambil dari Roma 5:3-5, jelas sekali sebelum ada pengharapan yang tidak mengecewakan, pada awalnya kita mengalami kesengsaraan, lalu muncul ketekunan yang menghasilkan tahan uji, dan tahan uji memberikan pengharapan. Ternyata dalam menantikan pengharapan ada proses yang panjang, supaya kita menjadi tekun, bekerja keras, bersemangat, dan terlebih lagi bersukacita setiap saat.
Ada baiknya, kita tidak hanya berharap saja, tetapi menjadi pengharapan. Seperti seorang dokter yang akan menyembuhkan pasiennya. Sang dokter tidak akan mengatakan kepada pasien yang mengalami penyakit kronis, bahwa penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Tetapi sang dokter akan memberikan pengharapan kepada si pasien bahwa ia akan disembuhkan dengan obat dan perawatan medis yang diberikan oleh dokter. Dan tentu saja pernyataan si dokter ini membawa semangat sang pasien untuk tetap hidup.
Nah saudara yang terkasih, mari kita tetap memiliki pengharapan, menantikannya dengan tekun. Terlebih lagi kita menjadi pengharapan untuk orang lain. Selamat berpengharapan!